Powered By Blogger

Kamis, 31 Maret 2011

PENGERTIAN SANITASI DAN HYGIENE

A. Latar Belakang
Ada pepatah yang mengatakan “Men Sana In Corpore Sano”, yang artinya dalam tubuh yang sehat, akan terdapat jiwa yang sehat. Akan tetapi masih banyak juga orang yang sakit dan biasanya karena pola hidup mereka sendiri yang kurang baik dan kebiasaan yang kurang baik sehingga dapat melemahkan dan merusak tubuh.
Perihal kesehatan cukup mudah untuk dipahami, akan tetapi masih banyak orang yang sakit karena kurangnya pengetahuan tentang arti kesehatan ataupun karena lalai.
Dalam pelayanan segala kebutuhan yang diperlukan telah siap sedia, seperti pelayanan akomodasi, restoran, bar, fitness center, transportasi, dsb. Semua fasilitas ini tidak hanya menampilkan mutu, citarasa masakan, kenyamanan saja, akan tetapi factor yang sangat penting adalah menyangkut kenyamanan dan kepastian atau jaminan kebersihan untuk kesehatan sesuai tujuan orang menikmati fasilitas tersebut demi kelangsungan hidupnya yaitu “hygiene dan Sanitasi” (kesehatan dan kebersihan). Untuk itu dalam mengelola seluruh fasilitas yang ditawarkan secara professional haruslah sesuai dengan aturan kesehatan yang berlaku, sehingga pengguna jasa mendapatkan kenikmatannya sendiri dengan jaminan kesehatan.
Pada akhirnya terjadilah dalam usaha bisnis hotel, restoran dan catering persaingan dalam kualitas atau mutu pelayanan yang mencakup kebersihan sebagai jaminan kesehatan.

B. Hygiene
Kata “hygiene” berasal dari bahasa Yunani yang artinya ilmu untuk membentuk dan menjaga kesehatan (Streeth, J.A. and Southgate,H.A, 1986). Dalam sejarah Yunani, Hygiene berasal dari nama seorang Dewi yaitu Hygea (Dewi pencegah penyakit). Arti lain dari Hygiene ada beberapa yang intinya sama yaitu:
1. Ilmu yang mengajarkan cara-cara untuk mempertahankan kesehatan jasmani, rohani dan social untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.
2. Suatu pencegahan penyakit yang menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada.
3. Keadaan dimana seseorang, makanan, tempat kerja atau peralatan aman (sehat) dan bebas pencemaran yang diakibatkan oleh bakteri, serangga, atau binatang lainnya.
4. Menurut Brownell, hygine adalah bagaimana caranya orang memelihara dan melindungi kesehatan.
5. Menurut Gosh, hygiene adalah suatu ilmu kesehatan yang mencakup seluruh factor yang membantu/mendorong adanya kehidupan yang sehat baik perorangan maupun melalui masyarakat.
6. Menurut Prescott, hygiene menyangkut dua aspek yaitu:
Yang menyangkut individu (personal hygiene)
Yang menyangkut lingkungan (environment)
Hygiene is a concept related to medicine as well as to personal and professional care practices related to most aspects of living although it is most often associated with cleanliness and preventative measures.
Dalam industry makanan/catering, penerapan standar hgiene yang tinggi perlu dilakukan dalam mengolah makanan agar mampu memproduksi makanan yang aman untuk dikonsumsi. Aman artinya bebas dari hal-hal yang membahayakan, merugikan dan bebas dari kerusakan.

C. Sanitasi
Pengertian sanitasi ada beberapa yaitu:
1. Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatan pada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
2. Upaya menjaga pemeliharaan agar seseorang, makanan, tempat kerja atau peralatan agar hygienis (sehat) dan bebas pencemaran yang diakibatkan oleh bakteri, serangga, atau binatang lainnya.
3. Menurut Dr.Azrul Azwar, MPH, sanitasi adalah cara pengawasan masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan terhadap berbagai faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
4. Menurut Ehler & Steel, sanitation is the prevention od diseases by eliminating or controlling the environmental factor which from links in the chain of tansmission.
5. Menurut Hopkins, sanitasi adalah cara pengawasan terhadap factor-faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh terhadap lingkungan.
Dari beberapa pengertian tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan lingkungan hidup manusia. Sedangkan hygiene adalah bagaimana cara orang memelihara dan juga melindungi diri agar tetap sehat.

Jadi dalam hal ini sanitasi ditujukan kepada lingkungannya, sedangkan hygiene ditujukan kepada orangnya.
Sanitasi : Usaha kesehatan prevenif yang menitikberatkan kegiatan kepada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
Hygiene : Usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kesehatan individu, maupun usaha kesehatan pribadi hidup manusia.
Beberapa manfaat dapat kita rasakan apabila kita menjaga sanitasi di lingkungan kita, misalnya:
Mencegah penyakit menular
Mencegah kecelakaan
Mencegah timbulnya bau tidak sedap
Menghindari pencemaran
Mengurangi jumlah (presentase sakit)
Lingkungan menjadi bersih, sehat dan nyaman

D. Ruang Lingkup Hygiene dan Sanitasi
Ruang Lingkup Hygiene
Masalah hygiene tidak dapat dipisahkan dari masalah sanitasi, dan pada kegiatan pengolahan makanan masalah sanitasi dan hygiene dilaksanakan bersama-sama. Kebiasaan hidup bersih, bekerja bersih sangat membantu dalam mengolah makanan yang bersih pula.
Ruang lingkup hygiene meliputi:
1. Hygiene perorangan
2. Hygiene makanan dan minuman


Ruang Lingkup Sanitasi
Berdasarkan pengertiannya yang dimaksud dengan sanitasi adalah suatu upaya pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha-usaha kesehatan lingkungan hidup manusia. Di dalam Undang-Undang Kesehatan No.23 tahun 1992 pasal 22 disebutkan bahwa kesehatan lingkungan diselenggarakan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, yang dapat dilakukan dengan melalui peningkatan sanitasi lingkungan, baik yang menyangkut tempat maupun terhadap bentuk atau wujud substantifnya yang berupa fisik, kimia, atau biologis termasuk perubahan perilaku.
Kualitas lingkungan yang sehat adalah keadaan lingkungan yang bebas dari resiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatan hidup manusia, melalui pemukiman antara lain rumah tinggal dan asrama atau yang sejenisnya, melalui lingkungan kerja antra perkantoran dan kawasan industry atau sejenis. Sedangkan upaya yang harus dilakukan dalam menjaga dan memelihara kesehatan lingkungan adalah obyek sanitasi meliputi seluruh tempat kita tinggal/bekerja seperti: dapur, restoran, taman, public area, ruang kantor, rumah dsb.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ruang lingkup kegiatan sanitasi di hotel meliputi aspek sebagai berikut:
1. Penyediaan air bersih/ air minum (water supply)
Meliputi hal-hal sebagai berikut:
Pengawasan terhadap kualitas dan kuantitas
Pemanfaatan air
Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui air
Cara pengolahan
Cara pemeliharaan
2. Pengolahan sampah (refuse disposal)
Meliputi hal-hal berikut :
Cara/system pembuangan
Peralatan pembuangan dan cara penggunaannya serta cara pemeliharaannya
3. Pengolahan makanan dan minuman (food sanitation)
Meliputi hal-hal sebagai berikut:
pengadaan bahan makanan/bahan baku
Penyimpanan bahan makanan/bahan baku
Pengolahan makanan
Pengangkutan makanan
Penyimpanan makanan
Penyajian makanan
4. Pengawasan/pengendalian serangga dan binatang pengerat (insect and rodent control)
Meliputi cara pengendalian vector
5. Kesehatan dan keselamatan kerja
Meliputi hal-hal sebagai berikut:
Tempat/ruang kerja
Pekerjaan
Cara kerja
Tenaga kerja/pekerja

Sabtu, 26 Maret 2011

Kusta dan Perawatannya

Kusta dan Perawatannya




Abstract
Leprosy is the disease of chronic infection which cause of Mycobacterium Leprae which is obligat intraseluler, first attack edge nerve, here in after can attack skin, mouth mucosa, upper of Tractus Respiratorius, retikulo endotelial system, eye, muscle, bone and testis.
Sure sign of leprosy ( Cardinal Signs of leprosy) is: a) skin with red or white pock insensiblely, b) thick at edge nerve accompanied by the disparity of function in the form of insensible and weakness at muscle of hand, foot, and eye, c) BTA positive at skin swab. Client told to suffer leprosy if we found one or more the  Cardinal Signs of Leprosy at clinis inspection to them .
In all the world, 80% cases found in five state, that is India, Myanmar, Indonesia, Brazil, and Nigeria. Wound care and prevention of incidence of hurt is vital importance to prevent the defect and anatomical disparity for leper.

Keyword : Leprosy, wound care, defect, elimination.

Abstrak
Kusta adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh  Mycobacterium Leprae yang intraseluler obligat, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis..
Tanda pasti kusta (Cardinal Signs Kusta) adalah: a) kulit dengan bercak putih atau kemerahan dengan mati rasa, b) penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan pada otot tangan , kaki, dan mata, c) pada pemeriksaan kerokan kulit BTA positif. Klien dikatakan menderita kusta apabila ditemukan satu atau lebih dari Cardinal Signs Kusta, pada waktu pemeriksaan klinis.
Di seluruh dunia, 80% kasus ditemukan di lima negara, yaitu India, Myanmar, Indonesia, Brazil, dan Nigeria. Perawatan luka dan pencegahan timbulnya luka sangat penting untuk mencegah terjadinya kecacatan atau kelainan anatomis bagi penderita kusta.

Kata Kunci : Kusta, perawatan luka, cacat, eliminasi


Pendahuluan
Morbus Hansen atau lepra atau kusta merupakan penyakit tertua sekaligus penyakit menular yang sangat menakutkan. Penyakit ini ditemukan oleh GH Armauer Hansen ( Norwegia ) pada tahun 1873, dengan menemukan Mycobacterium leprae sebagai kuman penyebab. Sampai datangnya AIDS, leprae adalah penyakit yang paling menakutkan daripada penyakit menular lainnya. Penyakit ini menyesatkan hidup berjuta-juta orang, terutama di Amerika

Selatan, Afrika, dan Asia.  Penyakit ini di Indonesia lebih dikenal dengan penyakit Kusta. Menurut  Sub Direktorat Kusta dan Frambusia Direktorat P2M Ditjen PPM& PL (2000), penyakit kusta merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di Indonesia, dimana masih terdapat 10 propinsi yang angka prevalensinya lebih dari 1/10.000 penduduk. Prevalensi berkisar 0,14 (Bengkulu) sampai dengan 7,42 (Maluku) .
Menurut Djuanda, A. (1997), Kusta adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Leprae, yang pertama menyerang saraf tepi, selanjutnya dapat menyerang kulit, mukosa mulut, saluran napas bagian atas, sistem retikulo endotelial, mata, otot, tulang dan testis. Kusta adalah penyakit infeksi yang kronik, penyebabnya ialah Mycobacterium leprae yang intraseluler obligat , demikian menurut Kosasih. A (1993) dalam Djuanda (1993).
Kusta bukan penyakit keturunan, tetapi merupakan penyakit menular. Penyakit menular ini pada umumnya mempengaruhi kulit dan saraf perifer, tetapi mempunyai cakupan manifestasi klinis yang luas ( CDC. 2003)
Penularan kusta terjadi lewat droplet, dari hidung dan mulut, kontak yang lama dan sering pada klien yang tidak diobati. Manusia adalah satu-satunya yang diketahui merupakan sumber Mycobacterium leprae. Kusta menular dari penderita yang tidak diobati ke orang lainnya melalui pernapasan dan kontak kulit. (Ditjend PPM & PL.2002)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          

Klasifikasi

Klasifikasi menurut WHO (1981) dan modifikasi WHO (1988) dalam Djuanda.A (1997), adalah pausibasiler (PB) dan multibasiler (MB). Pausibasiler (PB) termasuk kusta tipe TT (tuberkuloid-tuberkuloid) dan BT ( borderline tuberkuloid) menurut kriteria Ridley dan Jopling atau tipe I (indeterminate) dan T (tuberkuloid) menurut klasifikasi Madrid dengan BTA negatif. Multibasiler (MB), termasuk kusta tipe BB (borderline-borderline), BL borderline lepromatous), dan LL ( lepromatosa-lepromatosa) menurut kriteria Ridley dan Jopling atau B (borderlien) dan L (lepromatousa)  menurut Madrid dan semua tipe kusta dengan BTA positif. (Djuanda. A. 1997)
Klasifikasi Ridley – Jopling terdiri dari Tuberkuloid- tuberkuloid (TT), borderline tuberkuloid (BT), borderline borderline (BB), dan lepromatosa-lepromatosa (LL). Klasifikasi Ridley-Jopling biasanya digunakan untuk penelitian. Sedangkan klasifikasi Internasional  terdiri dari Indeterminate (I), Tuberkuloid (T), Borderline (B), dan Lepromatosa (L).

Kelompok Resiko

Kelompok yang berisiko tertular penyakit kusta  adalah kontak yang lama dengan penderita kusta yang tidak diobati, penderita yang masih aktif, dan orang-orang  yang tinggal di daerah endemis kusta ( CDC. 2004).

Insiden

Pada tahun 2002, banyaknya kasus baru dideteksi diseluruh dunia adalah 763.917 penderita. WHO mencatatkan 90% kasus tersebut terdapat di Brazil, Madagaskar, Mozambie, Tanzania, dan Nepal. Pada tahun tersebut 96 kasus di Amerika Serikat dilaporkan ke CDC (CDC.2003)

Frekuensi

Menurut Barrett. TL. (2002), kira-kira 6.000 penderita kusta hidup di Amerika Serikat, 95% dari penderita tersebut memperoleh penyakitnya di negara berkembang. Kasus yang terjadi di Amerika Serikat 200-300 kasus per tahun. Proporsi terbesar terdapat di negara dengan populasi imigran terbesar (  California, New York, Florida) dari kasus baru, sedangkan daerah endemis kecil ada di Texas, Louisiana, dan Hawaii.
Secara internasional prevalensi  kusta di dunia 5,5 juta kasus, mayoritas terdapat di daerah tropik dan subtropik. Di seluruh dunia 80% kasus ditemukan di lima negara, yaitu India, Myanmar, Indonesia, Brazil, dan Nigeria. ( Barrett. TL. 2002)
Tanda Pasti Kusta (Cardinal Signs Kusta)
Tanda pasti kusta adalah: a) kulit dengan bercak putih atau kemerahan dengan mati rasa, b) penebalan pada saraf tepi disertai kelainan fungsinya berupa mati rasa dan kelemahan pada otot tangan , kaki, dan mata, c) pada pemeriksaan kerokan kulit BTA positif. Klien dikatakan menderita kusta apabila ditemukan satu atau lebih dari Cardinal Signs Kusta, pada waktu pemeriksaan klinis. (Ditjend PPM & PL, 2002)

Derajat Cacat Kusta

WHO (1995) dalam Djuanda.A (1997) membagi cacat kusta menjadi tiga tingkat kecacatan. Karena mata, tangan, dan kaki merupakan organ yang paling berfungsi, maka tingkat kecacatan tersebut didasarkan pada organ tersebut, yaitu :
Cacat pada tangan dan kaki
Tingkat 0 :   tidak ada anestesi dan   kelainan anatomis
Tingkat 1 :    ada anestesi, tetapi tidak ada kelainan anatomis
Tingkat 2 :    terdapat kelainan anatomis
Cacat pada mata
Tingkat 0 : tidak ada kelainan pada  mata ( termasuk visus)
Tingkat 1  :  ada kelainan mata, tetapi tidak terlihat, visus sedikit berkurang
Tingkat  2: ada lagoptalmus dan visus sangat terganggu ( visus 6/60 ; dapat menghitung jari pada jarak 6 meter)
Pencegahan Cacat
Di seluruh dunia kira-kira 1-2 juta orang yang mengalami cacat tetap akibat kusta (CDC. 2003). Menurut Djuanda. A (1997) jenis dari cacat kusta dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu :
1. Cacat  Primer
Adalah kelompok cacat yang disebabkan langsung oleh aktivitas penyakit, terutama kerusakan akibat respon jaringan terhadap M. leprae, yang termasuk kedalam cacat primer adalah :
a.       Cacat pada fungsi saraf ; 1) fungsi saraf sensorik, misalnya anestesi, 2) fungsi saraf motorik, misalnya claw hand, wrist drop, foot drop, claw toes, lagoptalmus, 3) fungsi saraf otonom dapat menyebabkan kulit menjadi kering dan elastisitas kulit berkurang, serta gangguan refleks vasodilatasi
b.      Infiltrasi kuman pada kulit dan jaringan subkutan menyebabkan kulit berkerut dan berlipat-lipat, misalnya fasies leonina, blefaroptosis, ektropion. Kerusakan folikel rambut menyebabkan alopesia atau madorosis, kerusakan glandula sebasea dan sudorifera menyebabkab kulit kering dan tidak elastis.
c.       Cacat pada jaringan lain akibat infiltrasi kuman kusta dapat terjadi pada tendo, ligamen, sendi, tulang rawan, tulang, testis, dan bola mata.
2.      Cacat Sekunder
Cacat ini terjadi akibat cacat primer, terutama adanya kerusakan saraf sensorik, motorik, dan otonom. Anestesi akan memudahkan terjadinya luka akibat trauma mekanis / termis dan mengalami infeksi sekunder. Kelumpuhan mototrik menyebabkan kontraktur, sehingga terjadi gangguan berjalan dan memudahkan terjadinya luka. Lagoptalmus menyebabkan kornea menjadi kering dan memudahkan terjadinya keratitis. Kelumpuhan saraf otonom menjadikan kulit kering dan berkurangnya elastisitas, akibatnya kulit mudah retak dan terjadi infeksi sekunder.

Perawatan Luka
Jenis luka pada penderita kusta adalah luka lepromatosa,luka stasis, luka plantar, luka lain, luka keganasan. Prinsip daripada pengobatan/perawatannya adalah imobilisasi dengan mengistirahatkan kaki yang luka (misal. tongkat, bidai), merawat luka setiap hari dengan membersihkan,membuang jaringan mati, dan menipiskan penebalan kulityang selanjutnya dikompres.
Perawatan Mata yang Tidak Tertutup Rapat (Lagoptalmus)
Perhatian, lindungilah mata  tidak tertutup rapat (lagoptalmus) dari angin dan debu, serta sinar matahari untuk mencegah mata kemerahan dan buta.Pemeriksaan, gunakanlah cermin setiap hari untuk melihat apakah ada mata yang merah, bila ada laporkan ke petugas Puskesmas.Latihan, tariklah kulit di sudut mata ke arah luar dengan jari tangan sebanyak 10 kali setiap latihan, lakukan tiga kali sehari. Perlindungan, a) Lindungilah mata dari sinar matahri dengan menggunkan topi yang lebar, b) Pakailah kaca mata gelap untuk melindungi mata dari sinar matahri, angin, dan debu, c) Waktu tidur, tuutp mata dengan kain bersih supaya debu tidak  masuk. (Dirjend PPM & PL.2002)

Perawatan Tangan yang Mati Rasa (Anestesi)
Perhatian, lindungilah tangan yang mati rasa (anestesi) dari benda panas, benda kasar, dan benda tajam untuk mencegah luka. Periksa, periksalah telapak tangan setiap hari. Bila ada kemerahan, melepuh atau luka ; istirahatkan, rawatlah luka. Rendam, rendamlah tangan setiap hari dengan air bersih dalam baskom, selama 30 menit untuk menjadikan kulit lembut. Gosok, setelah direndam gosok kulit menebal dengan batu apung untuk menjadikan kulit lembut. Olesi, olesi dengan minyak kelapa bersih dalama keadaan basah. Mencegah luka, a) Bungkuslah tangkai panci yang panas dengan kain yang tebal untuk mencegah terjadinya luka, b) Bungkus tangkai cangkul dengan kain yang tebal untuk mencegah terjadinya luka, c) Gunakan pipa sewaktu merokok, untuk mencegah luka. (Dirjend PPM & PL.2002)
Perawatan Tangan yang Bengkok (Kontraktur)
Perhatian, latih jari-jari tangan yang bengkok tiga kali sehari, supaya jari-jari tangan tidak menjadi kaku. Rendam,  rendamlah tangan  tiga kali sehari dengan air bersih selama 30 menit. Olesi, olesi tangan yang bengkok dengan minyak kelapa bersih dalam keadaan basah. Luruskan, a) Luruskan jari-jari  tangan yang bengkok dengan tangan yang lain sebanyak 20 kali tiap latihan, lakukan tiga kali sehari, b) Taruh tangan diatas paha dan luruskan  jari-jari tangan sebanyak 20 kali tiap latihan, lakukan tiga kali sehari. (Dirjend PPM & PL.2002)

Perawatan Tangan dengan Luka

Perhatian, a) Kurangi tekanan pada tangan yang luka, b) Luka harus selalu bersih, c) Bila luka bau, panas dan bengkak segera ke Puskesmas. Rendam, tiap hari rendamlah tangan dengan iar bersih selama 30 menit. Balut, balut luka dengan kain bersih. Istirahat, istirahatkan tangan yang ada luka, jangan gunakan unutk bekerja. (Ditjend PPM & PL.2002)

Perawatan Jari Kaki yang Bengkok dan Lunglai

Perhatian, luruskan jari kai bengkok dan latihlah telapak kaki lunglai supaya, a) Jari-jari dan sendi kaki tidak menjadi kaku, b) Mempermudah operasi untuk meluruskan jari dan sendi kaki, kalau diperlukan nanti. Olesi, olesi telapak kai dengan minyak kelapa yang belum dipakai, supaya tidak mudah luka waktu latihan. Luruskan, jari-jari kai yang bengkok, selama empat detik, tiga kali sehari, dan sebanyak 20 kali tiap latihan. Latihan, telapak kai yang lunglai dengan melingkari handuk atau sarung, dan tariklah selama empat detik, tiga kali sehari, ulangi 20 kali setiap latihan. Tekan, tekanlah telapak kaki lantai / dasar yang cukup keras selama 10 menit setiap kali latihan, dan lakukan tiga kali sehari. (Ditjend PPM & PL.2002)
Pencegahan Luka
Penting dilakukan dan diajarkan pada penderita, agar dapat selalu menjaga kakinya supaya tidak timbul luka atau luka yang telah sembuh tidak timbul lagi. Saran yang dapat diberikan untuk mencegah luka tersebut diantaranya : selalu memakai alas kaki, jangan berjalan terlalu lama, berhati-hati terhadap api, air /benda panas lainnya, berhati-hati saat duduk bersila, memeriksa keadaan kaki dan kulit apakah anda tanda-tanda kemerahan, melepuh.
Penyuluhan Kesehatan
Beberapa hal yang perlu dijelaskan pada penderita, keluarga dan masyarakat menurut Ditjen PPM & PL (2000) adalah jelaskan tentang penyakit kusta, pentingnya berobat secara teratur, pentingnya bagi anggota keluarga untuk mengawasi penderita minum obat  secarat teratur dan lengkap. Tidak kalah penting penyuluhan kepada masyarakat agar tidak takut kepada penyakit kusta (leprofobia) dan dapat membantu membawa suspek kasus kusta ke Puskesmas.
Pendidikan kepada klien menurut Barret, TL. (2002), yang pertama adalah kebutuhan akan penjelasan tentang diagnosis dan prognosis. Penjelasan tentang cacat yang diakibatkan oleh kusta. Klien membutuhkan konseling psikologis karena klien sulit menerima keadaannya atau  perasaan ditolak oleh masyarakat. Klien membutuhkan  pendidikan tentang bagaimana cara menghadapi anestesi pada tangan dan kaki. Penderita harus tahu cara memeriksa ekstrimitas utnuk mengetahui adanya trauma dan harus pakai alas kaki. Pentingnya memeriksa tungkai / lengan dan mata dari adanya anestesi atau kelemahan. Pengobatan dan okupasi terapi penting dalam rangka rehabilitasi. Klien harus tahu  adannya reaksi kusta dan mencari pertolongan medis segera. Deformitas dapat dicegah melalui pendidikan kepada klien untuk mengenali adanya kerusakan saraf dan akibat  dari kerusakan saraf tersebut.
Eliminasi Kusta
Sejak tahun 1985  penyakit kusta dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Lebih dari 12 juta penderita kusta selama  20 tahun lebih, penderita kusta telah diobati dengan MDT. Multidrug therapy telah mampu menekan penyakit kusta secara dramatis. dan prevalensinya menurun hingga 90%. Dan pada tahun 1991 World Health Assembly telah mengeluarkan suatu resolusi yaitu eliminasi kusta tahun 2000 (Dinkes.Prop.Sumsel.2003)
Hingga kini sudah 108 negara yang bebas kusta dari 122 negara, dimana kusta dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat. Sementara 14 negara sisanya terdapat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Tujuh puluh persen penderita kusta dunia pada tahun  2002 terdapat di India.
Pada awal tahun 2004 banyaknya penderita kusta dibawah pengobatan dunia  ada sekitar 460.000 penderita.  Sekitar 515.000 kasus baru ditemukan selama tahun 2003, diantaranya 43% kasus multibasiler,  12% pada anak-anak, dan 3% yang mengalami cacat berat. Dua tahun belakangan secara global kasus baru yang dideteksi terus menurun secara dramatis, penurunan tersebut kira-kira 20% per tahun.
Menurut Leisinger.KM. (2005), dalam tulisannya  Leprosy in the year 2005 Impressive success with the treatment of a biblical disease menyebutkan bahwa, sejak  tahun 2000, lebih dari 3 juta orang telah diobati dari lepra. Sejak tahun 1985 prevalensi lepra menurun  90%, dari 21.1 per 10,000 penduduk hingga  kurang dari 0.8 per  10,000 penduduk pada tahun 2004. Lepra adalah suatu masalah kesehatan masyarakat yang utama di 9 negara dari 122 negara-negara pada tahun 1985
Upaya yang sedang intensif dilakukan untuk eliminasi kusta di enam negara, yakni Brazil, India, Madagaskar, Mozambie, Myanmar, dan Nepal. Negara-negara tersebut merupakan 90% dari prevalensi kusta di dunia pada tahun 2002.
Dengan kemajuan teknologi di bidang promotif, pencegahan, pengobatan serta pemulihan kesehatan di bidang kusta, maka penyakit kusta sudah dapat diatasi  dan seharusnya tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tetapi karena masih banyaknya masyarakat yang belum mengetahui / mengerti mengenai penyakit kusta ini, terutama mengenai tanda dini dan akibat penyakit yang ditimbulkannya, penderita tidak cepat pergi berobat sehingga jadi cacat dan penularan tetap berlangsung. Hal ini merupakan hambatan bagi program eliminasi kusta. ( Ditjen PPM & PL. 2000).
Daftar Pustaka
1.        Barrett. TL., Wells. MJ., Libow.L., Quirk.C., and Elston DM. (2002). Leprosy, retrieved  January 14, 2005 from http://emedicine.com/derm/byname/leprosy.
htm. Last update: April 10, 2002
2.        CDC. (2003). Hansens's Disease (Leprosy), retrieved  December 2003 from http://cdc.gov/ncidod/dbmd/diseaseinfo/hansen-a.htm.htm. Last update: February 11, 2004
3.        Ditjen PPM & PL. (2000). Buku Pedoman Program P2 Kusta Bagi Petugas Puskesmas. Jakarta : Sub Direktorat Kusta & Frambusia.
4.        Dinkes Prop.Sumsel. (2003). Modul pemberantasan penyakit kusta. Palembang : tidak diterbitkan.
5.        Djuanda.A., Menaldi. SL., Wisesa.TW., dan Ashadi. LN. (1997). Kusta : diagnosis dan Penatalaksanaan. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
6.        Djuanda. A.,Djuanda. S., Hamzah. M., dan Aisah.A. (1993). Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta: Balai Penrbit FKUI
7.        Leisinger, KM. (2005). Leprosy in the year 2005: Impressive success with the treatment of a biblical disease
8.        WHO. (2002). Elimination of Leprosy as a Public Health Problem. retrieved  January 14, 2005 from http://who.int.com/lep/stat2002/global02.htmLlast update: January 10, 2005

HUBUNGAN FUNGSI KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA SCHIZOFRENIA DI RS JIWA DAERAH PALEMBANG

HUBUNGAN FUNGSI KELUARGA DENGAN KEKAMBUHAN PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA SCHIZOFRENIA DI RS JIWA DAERAH PALEMBANG

 
ABSTRACT
 
This study conducted to know family function relation with relapsing at patient of schizofrenia. Where becoming and population of sampel is family monomaniac of taken care of schizofrenia at Mental Hospital of Palembang. Method the used is method of survey analytic with Cross sectional desain, with sampling random technic. Processing datas which weared by using software of computer and analysed by univariat and bivariate. Result of study, by using analysis of univariat can know that family giving support at patient recovering process only 25 people (29,4%) pursuant to psychological function. By using bivariate analysis at obtained by psychological function value p=0,014 ( p<0,05). While at education function (knowledge) value p=1,000 ( p>0,05) and at function of biologis obtained by value p= 0,623 ( p>0,05). So that can be concluded , there is relation between psychological function with relapsing of schizofrenia, there no relation between education function (knowledge) and  biologis function with relapsing of schizofrenia at Mental Hospital of  Palembang. Require to be strived health education and family entangling to health in compilation of planning discharge, for the agenda of optimal [of] role and also family in treatment at home and prevent relapsing.

Keywords : Family, prevention, recurrence, schizofrenia

ABSTRAK
 
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan fungsi keluarga dengan kekambuhan pada penderita schizofrenia. Dimana yang menjadi populasi dan sampel adalah keluarga penderita gangguan jiwa schizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Dearah Palembang. Metode yang digunakan adalah metode survey analitik dengan desain Cross sectional, dan dengan teknik simple random sampling. Pengolahan data yang dipakai dengan menggunakan perangkat lunak komputer dan dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian, dengan menggunakan analisis univariat dapat diketahui bahwa keluarga yang memberikan dukungan pada proses kesembuhan penderita hanya 25 orang (29,4%) berdasarkan fungsi psikologis. Dengan menggunakan analisis bivariat pada fungsi psikologis diperoleh p value lebih kecil dari alpha yaitu sebesar 0,014 (p<0,05). Sedangkan pada fungsi pendidikan (pengetahuan) didapatnya p value lebih besar dari alpha yaitu sebesar 1,000 (p>0,05) dan pada fungsi biologis diperoleh p value lebih besar dari alpha yaitu sebesar 0,623 (p>0,05). Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara fungsi psikologis dengan kekambuhan pada penderita gangguan jiwa schizofrenia, tidak ada hubungan antara fungsi pendidikan (pengetahuan) dan fungsi biologis dengan kekambuhan pada penderita gangguan jiwa schizofrenia yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Daerah Palembang. Perlu diupayakan peningkatan pendidikan kesehatan dan pelibatan keluarga dalam penyusunan discharge planning, dalam rangka mengoptimalkan peran serta keluarga dalam perawatan di rumah dan mencegah kekambuhan.

Manajemen Ngorok

Manajemen Ngorok

 
Mungkin anda pernah mendengar bahwa masa honey moon yang mestinya dilewatkan dengan penuh kenangan, tetapi sebaliknya merupakan awal keretakan dari sebuah perkawinan yang dinantikan, hanya karena kebiasaan menarok handuk sembarangan. Anda mungkin juga pernah membaca bahwa gara-gara kebiasaan memencet pasta gigi sembarangan, sebuah rumah tangga menjadi luluh lantak berkeping-keping, lantaran sang istri punya kebiasaan memencet pasta gigi dari ujung (beraturan). Apakah anda juga pernah mendengar atau membaca, ngorok merupakan awal petaka di kebisingan malam, yang mestinya dilewatkan dengan penuh kasih-sayang ?
Di Amerika Serikat diperkirakan 10 - 30% orang dewasa mendengkur, dari jumlah itu, 5% penduduk AS memiliki kebiasaan mendengkur yang keras saat tidur dan itu menandakan ada masalah kesehatan yang serius. Kebanyakan dari 5% penduduk itu berjenis kelamin pria, berusia lebih dari 40 tahun, dan memiliki berat badan berlebih. (Indomedia.Com, 1997)
American Academy  of Otolaryngology (AAO) dalam Republika (2005), menemukan fakta bahwa 45% pria dewasa tidur mendengkur, lebih banyak pria mendengkur dibanding wanita, dan 25% orang dewasa normal berpotensi ngorok kala terlelap. Penyebabnya antara lain karena overweight (kelebihan berat badan) dan kebiasaan ngorok berbanding lurus dengan pertambahnya usia, sehingga ngorok bisa saja menjadi ukuran kualitas tidur seseorang.
Menurut Indomedia.Com.(1997) yang dikemukakan oleh Prof. Hendarto Hendarmin, Sp.THT mendengkur diderita oleh satu dari lima orang dewasa. Penyebab mendengkur bermacam-macam, bisa karena kelainan anatomi hidung (septum deviasi), adanya sumbatan oleh polip, atau alergi yang membuat selaput lendir membengkak sehingga penderita harus bernapas lewat mulut. Mendengkur bisa juga dialami anak-anak, dan biasanya akibat pembesaran amandel dan adenoid yang ada di belakang hidung.
Profesor Christian Poet, dkk mengatakan bahwa, anak-anak yang tidur mendengkur dipastikan mendapat nilai rendah untuk mata pelajaran seperti Matematika dan Bahasa Inggris dibandingkan anak-anak yang tidak mendengkur. (Indomedia.Com, 2002)
               Ngorok bisa dibedakan atas beberapa jenis, yaitu a) ringan, dengan suara halus dan berlangsung terus-menerus. Ini biasanya terjadi pada fase awal tidur dan umumnya merupakan tanda kelelahan, b) keras, terputus-putus, serta diikuti hentakan napas yang dalam. Dengkuran macam inilah yang patut diwaspadai karena gangguan napas jenis ini berisiko merusak organ-organ vital. Yang patut diwaspadai adalah jenis dengkuran keras sampai-sampai terdengar keluar kamar. Dengkuran ini biasanya terputus beberapa saat, kemudian dilanjutkan dengan napas yang terdengar seperti dihentakkan. Kalau terjadi situasi semacam itu, berarti secara periodik orang tersebut berhenti bernapas. Napas yang terhentak merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap risiko rendahnya kadar O2/CO2 dalam darah. Keadaan ini menyebabkan kualitas tidur tidak memadai dan sering dikeluhkan penderita sebagai insomnia. (Indomedia.Com.,1997)
Para ahli mengatakan dalam sejumlah kasus, mendengkur bisa jadi faktor predispoisi terjadinya kerusakan otak dan kehilangan sebagian memorinya. Melalui serangkaian penelitian, mereka menemukan bahwa gangguan pernafasan yang diikuti dengan dengkuran bisa merusak sebagian sel-sel otak.(Astaga.Com., 2003)
Tetapi tidak jarang ngorok mengganggu patner tidur, bahkan awal perpisahan dari dua sejoli.  Oleh karena itulah, sangat bijak bila berupaya meminimalisasinya. Berikut ini, lima cara dalam mengatasi atau mengurangi  mendengkur tersebut, yaitu :
1. Mengubah posisi tidur
Mendengkur biasanya muncul dari suara getar karena otot belakang tenggorokan saling bersentuhan dengan langit-langit, tekak, lidah, atau tonsil. Dengkuran semakin menggema saat posisi tidur terlentang. Itu karena posisi terlentang membuat lidah tertarik ke belakang  dan aliran udara menyempit.
Oleh karena itulah ngorok terjadi saat tidur terlentang. Maka mengubah posisi tidur terlentang dengan posisi miring, merupakan cara jitu menghindari dengkur.
2. Pertahankan berat ideal
Ngorok sering ditemukan pada orang yang memiliki berat badan (BB) berlebihan. Sehingga upaya yang paling tepat adalah dengan mempertahankan BB. Bagaimana bila terlanjur berbadan besar, menurunkan berat tubuh menjadi sebuah keharusan.
Sedikitnya kurangi 10 % BB untuk mengurangi atau menghilangkan dengkur. Sebab jaringan leher orang yang kelebihan BB, biasanya tebal. Itu yang memungkinkan munculnya resiko mendengkur pada orang yang kelebihan BB.
3. Hindari alkohol dan konsumsi obat penenang
Apapun jenis obat penenang seperti pil tidur atau alkohol dosis rendah dapat menyebabkan ngorok. Bukan karena alkohol dan obat penenang mampu membuat tidur lelap, tapi karena alkohol dan obat penenag cenderung akan menekan pusat pernapasan, sehingga menimbulkan dengkuran.
4. Hirup uap air sebelum tidur
Cara yang lain untuk mengatasi ngorok adalah menghirup dalam-dalam uap air melalui hidung sebelum tidur, sehingga hidung terasa longgar. Hal tersebut diakibatkan oleh tersumbatnya hidung yang menyebabkan dengkuran. Selain dengan menghirup uap air, dapat juga dihindari dengan meletakkan handuk basah air hangat untuk menghilangkan lendir penyebab hidung tersumbat.
5. Gunakan obat nasal
Penelitian membuktikan bahwa obat nasal semprot dapat mengusir penyumbatan pada hidung, sehingga membuat lubang hidung terbuka lebar. Dengan demikian Anda dapat terhindar dari risiko ngorok.

Asuhan Keperawatan AIDS


Abstrak
Infeksi HIV pada monosit dan makrofag berlangsung secara persisten dan tidak menyebabkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel ini menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke seluruh tubuh, untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Sebagai akibatnya, hidup penderita AIDS terancam infeksi yang tak terkira banyaknya yang sebenarnya tidak berbahaya, jika tidak terinfeksi. Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial, kurang-lebih 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terin­feksi oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung ­terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adalah jaringan limfoid. Proses keperawatan merupakan  faktor penting dalam survival pasien, pemeliharaan, perawatan kesehatan, rehabilitatif, dan preventif komplikasi. Asuhan keperawatan bagi pengidap AIDS merupakan tantangan yang besar bagi perawat karena setiap sistem organ berpotensi untuk menjadi sasaran infeksi ataupun kanker. Disamping itu, penyakit ini akan dipersulit oleh komplikasi masalah emosional, sosial dan etika. Rencana keperawatan bagi penderita AIDS harus disusun secara individual untuk memenuhi kebutuhan masing-masing klien.

Kata kunci : infeksi oportunistik, metodelogi keperawatan, kebutuhan pasien.




Pendahuluan
Sindrom immunnodefisiensi didapat (Acquired Immunodeficiency Syndrome, AIDS) pertama-tama menarik perhatian bidang kesehatan masyarakat pada tahun 1981.1 AIDS adalah penyakit defisiensi imunitas seluler, yang pada penderitanya tidak dapat ditemukan penyebab defisiensi tersebut.2 AIDS menyebabkan infeksi oportunistik dan/atau neoplasma yang berkaitan dengan defisiensi kekebalan yang sebelumnya dalam  keadaan sehat. Menurut Smeltzer3 AIDS adalah gejala dari penyakit yang mungkin terjadi saat sistem imun dilemahkan oleh virus HIV.
Human Immunedeficiency Virus (HIV)  tergolong ke dalam kelompok retrovirus dengan materi genetik dalam asam ribonukleat (RNA) , menyebabkan AIDS dapat membinasakan sel T-penolong (T4), yang memegang peranan utama dalam sistem imun. Sebagai akibatnya, hidup penderita AIDS terancam infeksi yang tak terkira banyaknya yang sebenarnya tidak berbahaya, jika tidak terinfeksi HIV.4

Patofisiologi

HIV tergolong ke dalam kelompok virus yang dikenal scbagai retrovirus yang menunjukkan bahwa virus terse­but membawa materi genetiknya dalam asam ribonukleat (RNA) dan bukan dalam asam deoksiribonukleat (DNA). Virion HIV (partikel virus yang lengkap dan dibungkus oleh selubung pelindung) mengandung RNA dalam inti berbentuk peluru terpancung dimana p24 merupakan komponen struktural yang utama. Tombol yang menonjol lewat dinding virus terdiri atas protein gp120 yang terkait pada protein gp41. Bagian yang secara selektif  berikatan dengan sel-sel CD4-posisitf (CD4+) adalah gp120 dari HIV. 3
Sel-sel  CD4-positif (CD4+) mencakup monosit, makrofag dan limfosit T4 helper (yang dinamakan sel-sel CD4+ kalau dikaitkan dengan infeksi HIV); limfosit T4 helper ini merupakan sel yang paling banyak di antara ketiga sel di atas.3-5 Sesudah terikat dengan membran sel T4 helper, HIV akan menginjeksikan dua utas benang RNA yang identik ke dalam sel T4 helper. Dengan menggunakan enzim yang dikenal sebagai reverse transcriptase, HIV akan melakukan pemrograman ulang materi genetik dari sel T4 yang terinfeksi untuk membuat double-stranded DNA (DNA utas-ganda). DNA ini akan disatukan ke dalam nukleus sel T4 sebagai sebuah provirus dan kemudian terjadi infeksi yang permanen.3          
Menurut Smeltzer3 siklus replikasi HIV dibatasi dalam stadium ini sam­pai sel  yang terinfeksi diaktifkan. Aktivasi  sel yang terinfeksi dapat dilaksanakan oleh antigen, mitogen, sitokin (TNF alfa atau interleukin l) atau produk gen virus seperti sitomegalovirus (CMV; cytomegalovirus), virus Epstein-Barr, herpes simpleks dan hepatitis. Seba­gai akibatnya, pada saat sel T4 yang terinfeksi diaktifkan, replikasi serta pembentukan tunas HIV akan terjadi dan sel T4 akan dihancurkan. HIV yang baru dibentuk ini kemudian dilepas ke dalam plasma darah dan menginfeksi sel-sel CD4+ lainnya.
Infeksi HIV pada monosit dan makrofag tampaknya berlangsung secara persisten dan tidak mengakibatkan kematian sel yang bermakna, tetapi sel-sel itu menjadi reservoir bagi HIV sehingga virus tersebut dapat tersembunyi dari sistem imun dan terangkut ke seluruh tubuh lewat sistem itu untuk menginfeksi berbagai jaringan tubuh. Sebagian besar jaringan itu dapat mengandung molekul CD4+ atau memiliki kemampuan untuk memproduksinya.3
Sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa sesudah infeksi inisial, kurang-lebih 25% dari sel-sel kelenjar limfe akan terin­feksi oleh HIV pula. Replikasi virus akan berlangsung ­terus sepanjang perjalanan infeksi HIV; tempat primernya adalah jaringan limfoid. Ketika sistem imun terstimulasi. replikasi virus akan terjadi dan virus tersebut menyebar ke dalam plasma darah yang mengakibatkan infeksi ber­ikutnya pada sel-sel CD4+ yang lain. Penelitian yang lebih mutakhir menunjukkan bahwa sistem imun pada infeksi HIV lebih aktif daripada yang diperkirakan sebe­lumnya sebagaimana dibuktikan oleh produksi sebanyak dua milyar limfosit CD4+ per hari. Keseluruhan populasi sel-sel CD4+ perifer akan mengalami "pergantian (turn over)" setiap 15 hari sekali.3,6
Kecepatan produksi HIV diperkirakan berkaitan de­ngan status kesehatan orang yang terjangkit infeksi terse­but. Jika orang tersebut tidak sedang berperang melawan infeksi yang lain; reproduksi HIV berjalan dengan lam­bat. Namun, reproduksi HIV tampaknya akan dipercepat kalau penderitanya sedang menghadapi infeksi lain atau kalau sistem imunnya terstimulasi. Keadaan ini dapat menjelaskan periode laten yang diperlihatkan oleh seba­gian penderita sesudah terinfeksi HIV. Sebagai contoh, seorang pasien mungkin bebas dari gejala selama berpu­luh tahun; kendati demikian, sebagian besar orang yang terinfeksi HIV (sampai 65%) tetap menderita penyakit HIV atau AIDS yang simtomatik dalam waktu 10 tahun sesudah orang tersebut terinfeksi.3,7
Dalam respons imun, limfosit T4 memainkan bebe­rapa peranan yang penting, yaitu: mengenali antigen yang asing, mengaktifkan Limfosit B yang memproduksi antibodi, menstimulasi limfosit T sitotoksik, memproduk­si limfokin dan mempertahankan tubuh terhadap infeksi parasit. Kalau fungsi limfosit T4 terganggu, mikroorganisme yang biasanya tidak menimbulkan penyakit akan memiliki kesempatan untuk menginvasi dan menyebabkan sakit yang serius. Infeksi dan malignansi yang timbul sebagai akibat dari gangguan sistem imun dinamakan infeksi oportunistik.3

Proses Keperawatan
Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan dan sebagai suatu pendekatan problem solving  yang memerlukan ilmu; teknik, dan keterampilan interpersonal yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/keluarga. Proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang squensial dan berhubungan: pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.8-10
Asuhan keperawatan merupakan  faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-aspek pemeliharaan, rehabilitatif, dan preventif perawatan kesehatan.6 Asuhan keperawatan bagi pengidap AIDS merupakan tantangan yang besar bagi perawat karena setiap sistem organ berpotensi untuk menjadi sasaran infeksi ataupun kanker. Disamping itu, penyakit ini akan dipersulit oleh komplikasi masalah emosional, sosial dan etika. Rencana keperawatan bagi penderita AIDS harus disusun secara individual untuk memenuhi kebutuhan masing-masing klien.

Pengkajian

Pengkajian keperawatan mencakup pengenalan faktor resiko yang potensial, termasuk praktik seksual, dan penggunaan obat-bius (IV). Status fisik dan psikologis klien harus dinilai. Fokus pengkajian meliputi status nutrisi, kulit dan membran mukosa, status respiratoirus, status neurologis, status cairan dan elektrolit, dan tingkat pengetahuan.3
Pendapat lain mengatakan bahwa dasar data pengkajian meliputi; aktivitas/istirahat, sirkulasi, integritas ego, eliminasi, makanan/cairan, higiene, neurosensori, nyeri / kenyamanan, pernapasan, keamanan, seksualitas, dan interaksi sosial.6

Aktivitas /Istirahat
Gejala  : mudah lelah, toleransi terhadap aktivitas berkurang, progresi kelelahan/malaise, perubahan pola tidur
Tanda   :  kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologis terhadap aktivitas seperti perubahan tensi, frekuensi jantung, dan pernapasan

Sirkulasi
Gejala  : penyembuhan luka lambat (bila anemia), perdarahan lama pada cedera (jarang terjadi)
Tanda   : Takikardia, perubahan tensi postural, menurunnya volume nadi perifer, pucat/sianosis, perpanjangan pengisian  kapiler.

Integritas Ego
Gejala  : faktor stres berhubungan dengan kehilangan, mis. dukungan keluarga/orang lain, penghasilan, gaya hidup, distres spiritual, mengkhawatirkan penampilan ; alopesia, lesi cacat, menurunnya berat bedan (BB). Mengingkari diagnosa, merasa tidak berdaya, putus asa, tidak berguna, rasa bersalah, kehilangan kontrol diri, dan depresi.
Tanda   : Mengingkari, cemas, depesi, takut, menarik diri, perilaku marah, postur tubuh mengelak, menangis, dan kontak mata yang kurang. Gagal menepati janji atau banyak janji untuk periksa dengan gejala yang sama.

Eliminasi
Gejala  : diare yang intermiten, terus menerus, disertai / tanpa kram abdominal. Nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi.
Tanda   : feses encer disertai / tanpa mukus atau darah, diare pekat yang sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rektal, perianal, dan perubahan dalam jumlah, warna, dan karakteristik urin.

Makanan / Cairan
Gejala  : Tidak napsu makan, mual/muntah, perubahan kemampuan mengenali makanan, disfagia, nyeri retrosternal saat menelan dan penurunan BB yang progresif
Tanda   :  bising usus dapat hiperaktif, kurus, menurunnya lemak subkutan/masa otot, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, adanya selaput putih dan perubahan warna pada mulut. Kesehatan gigi/gusi yang buruk, adanya gigi yang tanggal, dan edema (umum, dependen)

Higiene
Gejala  : tidak dapat menyelesaikan aktivitas sehari-hari
Tanda   : memperlihatkan penampilan yang tidak rapi, kekurangan dalam perawatan diri, dan aktivitas perawatan diri.

Neurosensori
Gejala  : pusing, sakit kepala, perubahan status mental, berkurangnya kemampuan diri untuk mengatasi masalah, tidak mampu mengingat dan konsentrasi menurun. Kerusakan sensasi atau indera posisi dan getaran, kelemahan otot, tremor, perubahan ketajaman penglihatan, kebas, kesemutan pada ekstrimitas (paling awal pada kaki).
Tanda   : perubahan status mental kacau mental sampai dimensia, lupa konsentrasi buruk, kesadaran menurun, apatis, respon melambat, ide paranoid, ansietas, harapan yang tidak realistis, timbul reflak tidak normal, menurunnya kekuatan otot, gaya berjalan ataksia, tremor, hemoragi retina dan eksudat, hemiparesis, dan kejang.

Nyeri / Kenyamanan
Gejala  : nyeri umum atau lokal, sakit, rasa terbakar pada kaki, sakit kepala (keterlibatan SSP), nyeri dada pleuritis
Tanda   : pembengkakan pada sendi, nyeri pada kelenjar, nyeri tekan, penurunan rentang gerak (ROM), perubahan gaya berjalan/pincang, gerak otot melindungi bagian yang sakit.

Pernapasan
Gejala  : napas pendek yang progresif, batuk (sedang-parah), batuk produktif/nonproduktif, bendungan atau sesak pada dada
Tanda   : takipnea, distres pernapasan, perubahan bunyi napas/bunyi napas adventisius, sputum kuning (pada pneumonia yang menghasilkan sputum)

Keamanan
Gejala  : riwayat jatuh, terbakar, pingsan, luka lambat sembuh, riwayat transfusi berulang, riwayat penyakit defisiensi imun (kanker tahap lanjut), riwayat infeksi berulang, demam berulang ; suhu rendah, peningkatan suhu intermiten, berkeringat malam
Tanda   : perubahan integritas kulit ; terpotong, ruam, mis. ruam, eksim, psoriasis, perubahan warna, mudah terjadi memar, luka-luka perianal atau abses, timbul nodul-nodul, pelebaran kelenjar limfe  pada dua area atau lebih ( mis. leher, ketiak, paha). Kekuatan umum menurun, perubahan pada gaya berjalan.

Seksualitas
Gejala  : riwayat perilaku berisiko tinggi yaitu hubungan seksual dengan pasangan positif HIV, pasangan seksual multipel, aktivitas seksual yang tidak terlindung, dan seks anal. Menurunnya libido, terlalu sakit untuk melakukan hubungan seksual, dan penggunaan kondom yang tidak konsisten. Menggunakan pil KB yang meningkatkan kerentanan terhadap virus pada wanita yang diperkirakan dapat terpajan karena peningkatan kekeringan vagina.
Tanda   : kehamilan atau resiko terhadap hamil, pada genetalia manifestasi kulit (mis. herpes, kutil), dan rabas.

Interaksi Sosial
Gejala : kehilangan kerabat/orang terdekat, rasa takut untuk mengungkapkan pada orang lain, takut akan penolakan / kehilangan pendapatan, isolasi, kesepian, mempertanyakan kemampuan untuk tetap mandiri, tidak mampu membuat rencana.
Tanda   : perubahan pada interaksi keluarga/orang terdekat, aktivitas yang tidak terorganisasi, perubahan penyusunan tujuan.

Diagnosa Keperawatan
Ada 14 diagnosa keperawatan yang dapat ditemukan pada pengidap AIDS.6 Diagnosis keperawatan tersebut adalah  1) Resiko tinggi terhadap infeksi (progresi menjadi sepsis/awitan infeksi oportunistik, 2) Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan, 3) Resiko tinggi terhadap pola napas tidak efektif, kerusakan pertukaran gas, 4) Resiko tinggi terhadap cedera (perubahan faktor pembekuan), 5) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan, 6) Nyeri akut/kronis, 7) Resiko tinggi/aktual terhadap kerusakan integritas kulit, 8) Perubahan membran mukosa oral, 9) Kelelahan, 10) Perubahan proses pikir, 11) Ansietas, 12) Isolasi sosial, 13) Ketidakberdayaan, dan 14) Kurang pengetahuan / kebutuhan belajar mengenai penyakit, prognosis, dan kebutuhan pengobatan.
Sedangkan menurut Smeltzer3 diagnosa keperawatan yang utama bagi pengidap AIDS, adalah sebagai berikut : 1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan manifestasi HIV, ekskoriasi dan diare pada kulit, 2) Diare yang berhubungan dengan kuman patogen usus dan / atau infeksi HIV, 3) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan immunodefisiensi, 4) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keadaan mudah letih, kelemahan, malnutrisi, gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit, dan hipoksia yang menyertai infeksi paru, 5) Perubahan proses pikir berhubungan dengan penyempitan rentang perhatian, gangguan daya ingat, kebingungan dan disorientasi yang menyertai ensefalopati HIV, 6) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pneumonia pneumocystis carinii, peningkatan sekresi bronkus, dan penurunan kemampuan untuk batuk yang menyertai kelemahan serta keadaan mudah letih, 7) Nyeri berhubungan dengan gangguan integritas kulit perianal akibat diare, sarkoma kaposi dan neuropati perifer, 8) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan asupan oral, 9) Isolasi sosial berhubungan dengan stigma penyakit, penarikan diri dari sistem pendukung, prosedur isolasi dan ketakutan bila dirinya menulari orang lain, 10) Berduka diantisipasi berhubungan dengan perubahan gaya hidup serta pernannya, dan dengan prognosis yang tidak menyenangkan, 11) Kurang pengetahuan berhubungan dengan cara-cara mencegah penularan HIV dan perawatan mandiri.
Menurut Carpenito11, diagnosa keperawatan utama pada pengidap AIDS, adalah : 1) Perubahan proses keluarga berhubungan dengan sifat alami kondisi AIDS, gangguan peran, dan masa depan yang tidak-pasti, 2) Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan penularan melalui darah eksresi tubuh, 3) Isolasi sosial berhubungan dengan ketakutan akan penolakan aktual dan sekunder, takut, 4) Resiko tinggi inefektivitas regimen terapeutik berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, pengobatan, transmisi, kontrol infeksi, dan pelayanan masyarakat, 5) Resiko tinggi kurang nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan infeksi HIV , infeksi oportunistik / keganasan akibat AIDS, 6) Resiko tinggi inefektivitas koping individu berhubungan dengan situasional krisis ( mis. infeksi HIV baru, hasil diagnosa AIDS, pertama kali opname), 7) Resiko tinggi ketegangan petugas pelayanan berhubungan dengan stigma tentang AIDS, dan ketidakpastian tentang penyakit dan kebutuhan akan petugas pelayanan.

Intervensi Keperawatan
Meningkatkan Integritas Kulit.  Kulit dan mukosa oral harus dinilai secara rutin dari adanya infeksi dan kerusakan kulit. Pasien dianjurkan mempertahankan keseimbangan antara istirahat dan mobilitas. Bantu mengubah posisi pasien setiap 2 jam bagi yang imobilisasi. Pasien diminta untuk tidak menggaruk dan menggunakan sabun nonabrasif, memakai pelembab tanpa parfum untuk mencegah kekeringan kulit.
Gunakan losion, salep, dan kasa steril pada kulit yang sakit sesuai ketentuan dokter. Obat antipruritus, antibiotik dan analgesik diberikan menurut ketentuan dokter. Penggunaan plester harus dihindari. Menjaga agar kain sprei tidak berkerut dan hindari memakai pakaian ketat.
Daerah perianal pasien harus sering diperika, bersihkan setiap kali selesai defekasi dengan sabun nonabrasif. Rendam duduk atau irigasi secara perlahan-lahan untuk pembersihan dan meningkatkan kenyamanan. Pasien dengan keadaan umum yang buruk memerlukan bantuan untuk memelihara kebersihan diri.
Meningkatkan kebiasaan Defekasi yang Lazim. Nilai pola defekasi, frekuensi defekasi, dan konsistensi feses serta pasien yang melaporkan rasa sakit pada perut terkait dengan defekasi. Kuantitas dan volume feses cair diukur untuk mencatat kehilangan volume cairan. Kultur feses untuk menentukan penyebab diare. Konseling untuk pengobatan dan asupan makanan yang adekuat.
Mencegah Infeksi. Kepada pasien dan orang yang merawatnya diminta untuk memantau tanda dan gejala infeksi, yaitu demam, mengigil, keringat malam, batuk dengan atau tanpa produksi sputum, napas pendek, kesulitan bernapas, sakit / sulit menelan, bercak putih di rongga mulut, penurunan BB yang tidak jelas penyebabnya, kelenjar limfe membengkak, mual, muntah, diare persisten, sering berkemih, sulit dan nyeri saat berkemih, sakit kepala, perubahan visual dan penurunan daya ingat, kemerahan, keluar sekret pada luka, lesi vaskuler pada wajah, bibir atau daerah perianal. Perawat harus memantau  hasil laboratorium, seperti hitung leukosit dan hitung jenis.
Penyuluhan mencakup higiene perorangan, rumah (seperti kamar, dapur) harus bersih untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Jika harus membersihkan kotoran, pasien  harus memakai sarung tangan. Pengidap AIDS dan pasangannya harus menghindari kontak dengan cairan tubuh selama melakukan hubungan seksual dan selalu menggunakan kondom pada segala bentuk hubungan seks. Pentingnya menghindari rokok dan mempertahankan keseimbangan antara diet, istirahat, dan latihan. Semua petugas kesehatan harus selalu mempertahankan tindakan penjagaan universal dalam semua perawatan pasien.
Memperbaiki Toleransi terhadap Aktivitas. Toleransi terhadap aktivitas dinilai dengan memantau kemampuan pasien untuk bergerak (ambulasi) dan melaksanakan kegiatan sehari-hari. Bantuan dalam menyusun rencana rutinitas harian untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas dan istirahat mungkin diperlukan. Barng-barang pribadi yang sering digunakan harus ditaruh pada tempat yang mudah dijangkau. Terapi relaksasi dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan yang turut menimbulkan kelemahan dan keadaan mudah letih. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain mungkin diperlukan, seperti kelemahan akibat adanya anemia, yang memerlukan terapi obat-obatan.
Memperbaiki Proses Pikir. Status mental harus dinilai sedini mungkin untuk memberikan data dasar  bagi keperluan pemantauan perubahan perilaku. Pasien dan keluarga harus dibantu untuk memahami dan mengatasi semua perubahan yang terjadi dalam proses pikir. Pasien mungkin memerlukan reorientasi, semua instruksi harus dengan bahasa yang jelas dan sederhana.
Memperbaiki Bersihan Jalan Napas. Frekuensi, irama, penggunaan otot aksesoris dan suara pernapasan ; status mental; dan warna kulit diperiksa minimal  sekali sehari. Adanya sputum harus dicatat, batuk, bernapas dalam, drainase postural, perkusi dan vibrasi dilakukan sedikitnya setiap dua jam untuk mencegah stasis sekresi dan meningkatkan bersihan saluran napas. Berikan posisi fowler tinggi atau semi fowler yang akan meudahkan pernapasan dan bersihan saluran napas. Evaluasi status volume cairan  untuk mempertahankan terapi hidrasi yang adekuat. Suctioning nasofaring atau trakea, intubasi dan ventalasi mekanis.
Meredakan Nyeri dan ketidaknyamanan. Nyeri akut adalah keadaan dimana individu mengalami dan melaporkan adanya ketidaknyamanan, berakhir dari satu detik sampai kurang dari 6 bulan. Sedangkan nyeri kronik adalah keadaan dimana individu mengalami nyeri menetap atau berulang , dalam waktu lebih dari 6 bulan.12 Nilai kualitas dan kuantitas nyeri yang berkaitan dengan terganggunya integritas kulit perineal, lesi sarkoma, dan neuropati perifer. Tindakan membersihkan daerah perianal, gunakan anestesi lokal / salep dapat diresepkan, bantal yang lunak dapat digunakan untuk meningkatkan rasa nyaman. Kepada klien diminta menghindari makanan yang mengiritasi usus, gunakan antispasmodik dan antidiare untuk mengurangi gangguan rasa nyaman serta frekuensi defekasi. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan.
Memperbaiki Status Nutrisi. Status nutrisi dinilai melalui memantau BB, asupan makanan, antropometri, kadar albumin, BUN, protein serta transferin dalam serum. Pengendalian mual dan muntah dengan obat antiemetik dapat meningkatkan asupan diet pasien. Menganjurkan pasien memakan makanan yang mudah ditelan dan menghindari makanan kasar, pedas atau lengket, serta terlalu panas atau dingin. Menganjurkan menjaga higiene oral sebelum dan sesudah makan.
Jadual makan harus diatur sehingga tidak jatuh pada saat pasien baru saja menjalani tindakan yang menyebabkan nyeri dan dalam keadaan kelelahan. Konsultasi dengan ahli diet untuk menentukan kebutuhan nutrisi. Penggunaan suplemen  yang khusus dirancang untuk pengidap AIDS dapat dianjurkan pada pasien. Bila asupan oral tidak dapat dipertahankan, memerlukan terapi nutrisi enteral atau parenteral. Perawat komunitas atau perawatan di rumah (home care) dapat memberikan pelajaran tambahan serta dukungan setelah pasien pulang dari rumah sakit.
Mengurangi Isolasi Sosial. Isolasi sosial adalah pengalaman sendiri individu akibat perlakuan orang lain dan dianggap sebagai hal yang negatif dan mengancam status. Isolasi sosial dapat terjadi akibat adanya penyakit yang menyeramkan, dan mengakibatkan kegelisahan di suatu masyarakat, sehingga menyebabkan seseorang diasingkan, misalnya penyakit tuberkulosis dan AIDS.13
Pengidap AIDS menarik diri baik secara fisik maupun emosional dari kontak sosial, akibat stigmatisasi ganda.  Perawat berada dalam posisi kunci untuk menciptakan suasana penerimaan dan pemahaman terhadap pengidap AIDS dan keluarga serta pasangannya. Pasien dianjurkan untuk mengekspresikan perasaan terisolasi, kesepiannya, dan perawat harus menetramkannya dengan menjelaskan bahwa semua perasaan ini merupakan hal yang lazim serta normal.
Berikan informasi tentang cara melindungi diri sendiri dan orang lain dapat membantu pasien agar tidak menghindari kontak sosial. Menjelaskan kepada pasien, keluarga dan sahabatnya bahwa penyakit AIDS tidak ditularkan melalui kontak biasa. Pendidikan bagi petugas kesehatan untuk mengurangi faktor-faktor yang membuat pasien merasa terisolasi.
Koping Terhadap Kesedihan. Membantu pasien untuk mengutarakan  perasaannya dan menggali serta mengenali sumber yang bisa memberikan dukungan dan mekanisme untuk mengatasi persoalan tersebut. Mendorong pasien untuk mempertahankan kontak dengan keluarga , sahabatnya dan memanfaatkan kelompok pendukung. Pasien juga dianjurkan untuk meneruskan kegiatan yang biasa mereka lakukan.
Pendidikan Pasien dan pertimbangan Perawatan di Rumah. Pasien, keluarga, dan sahabatnya diberitahu mengenai cara-cara penularan penyakit AIDS. Semua ketakutan dan kesalahpahaman harus dibicarakan dengan seksama.

Evaluasi
Hasil yang diharapkan daripada intervensi yang sudah  dilaksaanakan, adalah : 1) Mempertahankan integritas kulit, 2) Mendapatkan kembali kebiasaan defekasi yang normal, 3) Tidak mengalami infeksi, 4) Mempertahankan tingkat toleransi yang memadai terhadap aktivitas, 5) Mempertahankan tingkat proses pikir yang lazim, 6) Mempertahankan kebersihan saluran napas yang efektif, 7) Mengalami peningkatan rasa nyaman, penurunan rasa nyeri, 8) Mempertahankan status nutrisi yang memadai, 9) Mengalami pengurangan perasaan terisolasi dari pergaulan sosial, 10) Melewati proses kesedihan / dukacita, 11) Melaporkan tingkat pemahaman tentang penyakit AIDS serta berpartisipasi dengan maksimal dalam kegiatan perawatan mandiri.3
  
 Daftar Pustaka
1.        Price. S.A., &  Wilson. L.M. Patofisiologi : konsep klinis prose-proses penyakit. edisi 4. Alih bahasa : Anugerah. P, Jakarta: EGC. 1995
2.        Djuanda. A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. edisi-2. Jakarta : Gaya Baru. 1993.
3.        Smeltzer. S.C.,& Bare. B.G. Brunner & Suddarth's Textbook of Medical-Surgical. 8 ed. Philadelphia : Lippincott-Raven Publishers. 1996.
4.        Despopoulos. A., & Silbernagl. S. Color atlas of physiology, alih bahasa : Handojo. Y. Jakarta : Hipokrates.  1985.
5.        Sherwood. L. Fisiologi Manusia. edisi 2. Alih bahasa : Pendit. B.U. Jakarta : EGC. 2001.
6.        Ho, D.D., et al. Rapid removal of plasma virons and CD4 lymphocytes in HIV infection. Nature 1995 Jan 12; 373 (6510): 123-6
7.        Pinching, A.J. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS). In Roitt IM and Delves PJ (eds). Encyclopedia of Immunology (vol 1). New York, Academy Press. 1992
8.        Doenges. M. E., Moorhouse. M. F., & Geissler.A.C. Nursing Care Plans .3 rd. ed. Philadelphia: FA. Davis Company.  1993.
9.        Nursalam. Proses dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta. Salemba Medika. 2001
10.     Iyer,P.P.,Taptich, B.J., & Bernochi-Losey, D. Nursing Process and Nursing Diagnosis: Philadelphia. W.B. Saunders Company. 1996
11.     Carpenito. L.J. Nursing Care Plans & Documentation : Nursing Daignoses and Collaborative Problems (2 nd. Ed). Philadelphia. J.B. Lippincott Company.  1995.
12.     Carpenito. L.J. Nursing Diagnosis : Application to Clinical Practice. 6th ed. Alih Bahasa : Tim PSIK Unpad. Jakarta : EGC. 2000.
13.     McFarland. G. K., & McFarland. E. A. Nursing Diagnosis & Intervention .3 rd. St. Louis: Mosby. 1997